Tiada kata tertulis, lisan tertuang
Hanya bahasa tubuh lukisan hati yang perih
Sayap cintaku luruh satu ke bumi
Tertusuk mata pedang beracun yang kau selipkan lewat puisi dan syair membius sukma
Tiap tetes darah dan air mata yang mengalir adalah ungkapan sakitku
Karena racunnya telah sampai ke jantung
Wahai kau pemilik pedang
Tidak akan kupuja kau dan kukagumi sebagai penyair
Jika ternyata kau melukaiku
Menikamku dari belakang dan mematahkan sayap cintaku
Tak bisa ku terbang tinggi kini
Karena sayapku tinggal sebelah
Terpekurku disini dengan satu sayap, lumpuh dan tak berarti
Sedang kau disana berpesta pora menebar cinta pada yang lain
Dan mata pedang beracun kembali kau selipkan dalam tiap puisi dan syairmu
Siap mencari mangsa yang beru
Hanya aku disini sendiri
Adakah sang waktu kan berbaik hati padaku
Tumbuhkan sayapku yang patah
Hingga dapatku terbang kembali
Mencari cinta sejati
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment