Rinduku telah melelehkan salju
dan senyummu melelehkan kalbu
Pewarna anganku
Jangan pernah percaya engkau terbuat dari tulang
rusukku
karena itu adalah mimpi kaumku
untuk selalu mendominasi hidupmu
Penggoda jiwaku
Jangan percaya begitu saja pada budaya dan agama
jika penindasan justru datang dari sana
Kebebasanmu adalah juga kebahagiaanku
karena aku tahu kau bisa bertanggung jawab atas
kebebasan itu
Jika bumi masih diijinkan berputar
dan jika matahari belum kehabisan bahan bakar
aku akan selalu berdampingan denganmu
seperti tangan kanan dan tangan kiri
satu ke depan, satu ke belakang
satu ke belakang, satu ke depan
Bangkitlah kekasihku
ulurkan tanganmu tuk mereka yang masih terbelenggu
oleh poligami, sirkumsisi, seksisme, maskulinisme
oleh tamparan, siulan, nakalnya pandangan, pingitan
Teriaklah pujaanku
lawanlah mereka yang membelenggumu
karena siapapun luruh oleh lembutnya suaramu
Fisik dan psikis kita berbeda
tapi itu bukan alasan untuk membeda2kan hak2 kita
Bersinarlah wahai bidadariku
Masa Patriarki harus diakhiri
Matriarki pun harus dicegah terjadi
Kita bersama bukan untuk saling menguasai
tetapi saling mengerti dan menyayangi
Perjalanan sejarah bukan "hisstory"
tetapi jangan pula "herstory"
lebih indah apabila "ourstory"
Tuesday, January 23, 2007
" Puisi Adam kepada Hawa "
Monday, January 8, 2007
" Ya Allah Ya Rabbi "
Ya Allah Ya Rabbi
Dalam hening malam ini kupanjatkan doa kepadamu
Kubersimpuh dihadapanmu atas semua dosa – dosa hamba selama ini
Dikala hamba senang hamba khilaf dan melupakanmu
Terlena oleh kenikmatan dan buaian dunia yang fana
Terlalu jauh hamba telah meninggalkanmu hanya untuk mencari kesenangan sesaat dan menyesatkan
Kini hamba sadar
Bahwa hidup manusia didunia hanyalah sementara bukan selamanya
Karena telah kau takdirkan jalan hidupku dan semua umat manusia
Masih disini ku bersimpuh ya Allah dalam doa khusyu kupanjatkan
Memohon ampunanmu atas dosa – dosaku selama ini
Bangunkan hamba dari tidurpanjang hamba
Jadikanlah hambamu ini penghuni surgamu yang indah
Jauhkanlah dari siksamu
walau kutahu hamba tak pantas untuk mendapatkannya
Ku kan terus bersimpuh dihadapanmu
Bahkan seluruh hidupku kuserahkan kepadamu hanya untukmu
Sampai kau mengampuni hambamu ini
Karena ku tahu kau Maha Pengampun akan dosa umatmu
Jangan …..jangan kau tinggalkan aku Ya Allah Ya Rabbi
" Anak Perawan "
Diannya yang telah padam, tinggalkan luka hati anak perawan
Anak perawan menagis terisak sendu …..redup
Mengapa tuanku ? ….. tanya perawan
Belum cukupkah air mata mengalir dari mata hamba saat kau cumbu rayu perawanku …… berdarah
Begitu nikmat penuh dosa yang menjadikannya nista
Menghunus tajam kesucian diri ini …..terluka dan berdarah ….. hina
Cukup tuanku …… untuk semua air mata dan luka yang kau beri
Cukup sudah ……
Jangan kau panggila aku perawanmu
Aku telah ternoda oleh cintamu yang palsu dan memabukan namun mematikan
Aku bukan perawanmu, pemuas nafsumu
Perawanmu telah pergi dan mati
Sunday, January 7, 2007
" Ungkapan hati "
Kurasakan Sang Pecinta melimpahkan anugerah yang indah
Perasaan ini begitu indah syahdu
Merona merah pipi ini
Bulir bulir rinduku bagaimata air yang mengalir membasuh ragaku yang dahaga
Seandainya dapat kuhentikan sang waktu walau hanya sesaat
Kan kubisikan irama hatiku, nyayikan kidung cinta
" Duhai malam "
Kutitip rindu dendamku untuknya
Jadikan mimpi sebagai perantarannya
Angin menjadi mediannya
Bintang sebagai cahayannya
" Yang Kupunya "
Sayang yang kupunya tak ingin ku mendua
Jujur yang kupunya tak ingin kuberdusta
Namun jika rindumu kaubagi
Sayang mu mendua
Tiap katamu adalah dusta
Niscaya jiwa ragaku kecewa ..... terluka ...... merana ...... dan sengsara
Saturday, January 6, 2007
" Dalam Gersang Tandus Hati "
Masih ku sirami satu pohon cinta dihatiku
Walau perlahan - lahan daunnya gugur
Satu .... satu .... layu ..... kering
Batang, ranting dan akar hanya bisa terdiam dan bertannya
Tegakah wahai kau sang daun
Meninggalkan kami bertiga
Dalam gersang tandus hati
Masih ku sirami pohon cinta dihatiku
Walau ranting mulai kering dan terjatuh
Satu ...satu .... layu ..... kering
Batang dan akar hanya bisa terdiam dan bertannya
Tegakah wahai kau sang ranting
Meninggalkan kami berdua
Dalam gersang tandus hati
Masih kusirami pohon cinta dihatiku
Walau kulihat batang yang rapuh dan lapuk
Perlahan akan terpenggal dari hati
Akar hanya bisa terdiam dan bertannya
Tegakah wahai kau tuanku
Meninggalkan aku sendiri ....sepi ..... sepi ....sendiri
Semaki gersang dan tandus
Dalam gersang tandus hati
Haruskah ku terus sirami pohon cintaku
Jika daun, akar dan batang pergi dan mati
meninggalkan akar sendiri .... di gersang hati
Akar hanya terdiam
Perlahan tiupan dan setetes rindu yang tersisa
Mampu menumbuhkan tiap helai daun rindu dan ranting - ranting kesetiaan
kembali bersemi menjadi satu pohon cinta
Masih dan akan terus kusirami pohon cintaku
Dalam gersang tandus hati
Monday, January 1, 2007
" Tuhan "
Mengapa di tengah keramain ini aku merasa sepi dan sendiri
Hirup pikuk dan kebisingan di sekitarku
Tidak bisa menghapuskan gundah gulana dan sepi hati ini
Begitu sepi ..... sepi .....dan sedih
Tuhan
Perjalanan kehidupan ini begitu berliku dan penuh onak duri
Namun hamba tetap tegar menjalani dan menghadapinnya
Karena hambamu yakin kau sayang padaku
Dan akan kau bentangkan di depan sana jalan yang lurus dan penuh kebahagiaan
Jalan yang akan membawa hamba padamu ......
Tuhan
Jika boleh aku memohon sampai saatnya itu tiba
Kuatkanlah Iman ini ......
Karena hanya kepadamulah aku meminta dan memohon
Tidak kepada manusia dan alam
Tidak juga kepada bintang, bulan dan matahari
Karena hambamu ini adalah kepunyaanmu
Walau hamba tahu hidup hamba ini penuh dosa
Maka ampunilah hamba dan berikanlah hamba petunjuk dan jalan terangmu
Hingga saatnya nanti tiba
