Ku ingat suatu hari
saat mentari tak lagi tinggi
di dalam metro mini
ku tangkap satu episode percakapan
antara pedagang asongan dan pengamen jalanan
Pengamen berkata
" Wah gw ga nyangka kl lo ma gw tuch tajir abizz "
Pedagang berkata
" Tajir ..... tajir dari mana ..... untuk makan aja susah ......
Apalagi kalau ada kamtib .... bisa gak makan dech "
Pengamen berkata
" makanya gw heran .... padahal kita tuch tajir banget .... uang kita banyak milyaran rupiah "
Pedagang berkata
" Ngawur ah ..... makanya jgn terlau banyak berkhayal
kalau misalnya kita berdua megang uang milyaran rupiah ..... kenapa sampai sore gini kita belum makan "
Pengamen berkata
" ya itu .... uangnya dah kita tabung untuk beli laptop anggota DPR yang jumlahnya 400 orang "
Pedagang Asongan
" Ooooo ..... ???? "
Saturday, March 31, 2007
" Di pojokan sebuah mall "
Senja belum lagi kembali ke peraduan
Dan aku disini masih berdiri dipojokan sebuah mall
Mencoba berlindung dari derasnya hujan yang turun
Dan lalu lalangnya orang orang disekitarku
Ku coba alihkan pandangan kedalam mall
Sesaat kutangkap sosok yang begitu menarik perhatianku
Sosok pria yang begitu kukenal namun begitu asing sosok wanita disampingnya
Berlenggak lenggok dengan tangan sang pria bergayut mesra pada pinggang sang wanita
Saling pandang tak mau lepas laksana terpanah asmara
Tampa memperdulikan sekeliling mereka
Seolah dunia milik berdua
Senja telah kembali ke peraduan
yang tinggal hanya sinarnya yang bias dan tergantikan oleh sang malam yang dingin
Namun tidak dengan hatiku yang terbakar, panas
Bahkan sinar mentari pun tak mampu menandinginya
Ingin kuberlari dan melabrak dua sosok yang sedang kasmaran itu
Tak kupedulikan citra dan martabatku sebagai wanita
Biar menjadi sandiwara atau hiburan tambahan orang di dalam mall
Karena hatiku sedang terbakar
Belum lagi kumelangkahkan kaki ini
Hati nuraniku seolah berkata
Sandiwara itu ibarat dua sisi cermin yang melengkapi
Sisi yang satu sosok suamiku dengan wanita lain
Sisi yang lainnya sosok ku sendiri dengan pria lain
Hujan telah lama reda
Mentari telah lama kembali ke peraduan
Tergantikan oleh sang malam yang pekat
Masih ku disini
Di pojokan sebuah mall
Lunglai
Gamang
Dan aku disini masih berdiri dipojokan sebuah mall
Mencoba berlindung dari derasnya hujan yang turun
Dan lalu lalangnya orang orang disekitarku
Ku coba alihkan pandangan kedalam mall
Sesaat kutangkap sosok yang begitu menarik perhatianku
Sosok pria yang begitu kukenal namun begitu asing sosok wanita disampingnya
Berlenggak lenggok dengan tangan sang pria bergayut mesra pada pinggang sang wanita
Saling pandang tak mau lepas laksana terpanah asmara
Tampa memperdulikan sekeliling mereka
Seolah dunia milik berdua
Senja telah kembali ke peraduan
yang tinggal hanya sinarnya yang bias dan tergantikan oleh sang malam yang dingin
Namun tidak dengan hatiku yang terbakar, panas
Bahkan sinar mentari pun tak mampu menandinginya
Ingin kuberlari dan melabrak dua sosok yang sedang kasmaran itu
Tak kupedulikan citra dan martabatku sebagai wanita
Biar menjadi sandiwara atau hiburan tambahan orang di dalam mall
Karena hatiku sedang terbakar
Belum lagi kumelangkahkan kaki ini
Hati nuraniku seolah berkata
Sandiwara itu ibarat dua sisi cermin yang melengkapi
Sisi yang satu sosok suamiku dengan wanita lain
Sisi yang lainnya sosok ku sendiri dengan pria lain
Hujan telah lama reda
Mentari telah lama kembali ke peraduan
Tergantikan oleh sang malam yang pekat
Masih ku disini
Di pojokan sebuah mall
Lunglai
Gamang
" Seandainnya hari itu aku tidak pergi "
Seandainya hari itu aku tidak pergi
Menemui dirimu yang bukan miliku lagi
Menulang memori yang telah lama mati
kembali larut dalam hubungan yang tiada arti
Betapa naif dan bodohnya diri ini
Mengapa tak kusadari kebodohan ini
Perasaan larut bersamamu tidak boleh ada
Bahkan tidak seharusnya ada
Kusesali nasibku ini
Mengapa ku harus menemuimu kembali
Mengulang memori yang sudah terkubur dan mati
Apa yang harus kuperbuat kini
Betapa malangnya nasibku
Atau mungkin " .... betapa malangnya nasibmu wahai suamiku "
Dia tidak tahu istrinya kembali bermain api
Api yang kau sangka telah mati
Api yang sudah dipadamkan oleh mu
Namun coba dikobarkan kembali olehku
Menemui dirimu yang bukan miliku lagi
Menulang memori yang telah lama mati
kembali larut dalam hubungan yang tiada arti
Betapa naif dan bodohnya diri ini
Mengapa tak kusadari kebodohan ini
Perasaan larut bersamamu tidak boleh ada
Bahkan tidak seharusnya ada
Kusesali nasibku ini
Mengapa ku harus menemuimu kembali
Mengulang memori yang sudah terkubur dan mati
Apa yang harus kuperbuat kini
Betapa malangnya nasibku
Atau mungkin " .... betapa malangnya nasibmu wahai suamiku "
Dia tidak tahu istrinya kembali bermain api
Api yang kau sangka telah mati
Api yang sudah dipadamkan oleh mu
Namun coba dikobarkan kembali olehku
" Sang Waktu "
Wahai sang waktu yang disana
Kasihilah hambamu ini yg sedang merana
Percapatlah perputaran waktumu
Karena ku sedang terluka dan patahati
Dan Biarkanlah sang waktu menyembuhkanku
Mencerahkan kembali hidupku yang kelabu
Wahai sang waktu yang disana
Masa bahagia pernah kurasa
Saat hadirnya sang pencinta
Yang memberikan warna dalam hidup hamba
Bunga dan kumbang turut tertawa bahagia
Seolah larut dalam kebahagiaan tak terhingga
Menyenandungkan elegi lagu cinta
Wahai sang waktu yang disana
Kujadikan kau saksi dalam perjalanan hidup ini
Suka, duka, lara, nestapa telah kulalui
Mencoba mencari kebahagiaan sejati
yang terbawa dalam lamunan sepi dan bunga mimpi
Penghias tidurku sehari hari
Wahai sang waktu yang disana
Kau bisa memberi bahagia
kau juga bisa membuatku merana
Dan akhirnya sang waktu yang disana
Kasihilah hambamu ini yang sedang merana
Terluka sengsara karena cinta
Maka kupinta padamu sang waktu
Percepatlah perputaran waktumu
Sembuhkanlah luka yang menganga ini
karena ku percaya
Kau bisa menyembuhkan
Menceriakan kembali hidupku yang kelabu
Kasihilah hambamu ini yg sedang merana
Percapatlah perputaran waktumu
Karena ku sedang terluka dan patahati
Dan Biarkanlah sang waktu menyembuhkanku
Mencerahkan kembali hidupku yang kelabu
Wahai sang waktu yang disana
Masa bahagia pernah kurasa
Saat hadirnya sang pencinta
Yang memberikan warna dalam hidup hamba
Bunga dan kumbang turut tertawa bahagia
Seolah larut dalam kebahagiaan tak terhingga
Menyenandungkan elegi lagu cinta
Wahai sang waktu yang disana
Kujadikan kau saksi dalam perjalanan hidup ini
Suka, duka, lara, nestapa telah kulalui
Mencoba mencari kebahagiaan sejati
yang terbawa dalam lamunan sepi dan bunga mimpi
Penghias tidurku sehari hari
Wahai sang waktu yang disana
Kau bisa memberi bahagia
kau juga bisa membuatku merana
Dan akhirnya sang waktu yang disana
Kasihilah hambamu ini yang sedang merana
Terluka sengsara karena cinta
Maka kupinta padamu sang waktu
Percepatlah perputaran waktumu
Sembuhkanlah luka yang menganga ini
karena ku percaya
Kau bisa menyembuhkan
Menceriakan kembali hidupku yang kelabu
" April "
Hari ini
Hari pertama di bulan April
Tak banyak kupinta padamu wahai April
Yang kupinta hanya satu
Jadikanlah aku menjadi lebih baik dari bulan kemarin
Pengalaman berharga telah kudapatkan dari bulan lalu
Atau mungkin tahun tahun yang lalu
Pengalaman yang menyakitkan untuk semua orang
Namun belum kumengerti dan pahami pengalaman itu
Karena terus terulang dan kembali terulang
Hari ini
Hari pertama di bulan April
Tak banyak kupinta padamu wahai April
yang kupinta hanya satu
jadikan aku berharga untuk orang - orang disekelilingku
Begitu banyak luka dan kekecewaan ku torehkan di wajah mereka
Mereka hanya bisa diam tak bersuara
Seolah hendak membuatku jera tanpa tegur sapa
Menjadikan pengalaman berharga untukku
Namun belum ku mengerti dan pahami pengalaman itu
Karena terus terulang dan kembali terulang
Hari pertama di bulan April
Tak banyak kupinta padamu wahai April
Yang kupinta hanya satu
Jadikanlah aku menjadi lebih baik dari bulan kemarin
Pengalaman berharga telah kudapatkan dari bulan lalu
Atau mungkin tahun tahun yang lalu
Pengalaman yang menyakitkan untuk semua orang
Namun belum kumengerti dan pahami pengalaman itu
Karena terus terulang dan kembali terulang
Hari ini
Hari pertama di bulan April
Tak banyak kupinta padamu wahai April
yang kupinta hanya satu
jadikan aku berharga untuk orang - orang disekelilingku
Begitu banyak luka dan kekecewaan ku torehkan di wajah mereka
Mereka hanya bisa diam tak bersuara
Seolah hendak membuatku jera tanpa tegur sapa
Menjadikan pengalaman berharga untukku
Namun belum ku mengerti dan pahami pengalaman itu
Karena terus terulang dan kembali terulang
Sunday, March 18, 2007
" Cintaku laksana perahu "
Terus kudayung perahuku
kayuh, dayung, jauh ..... jauh
Berharap menemukan daratan tempatku menepi
Menyandarkan perahuku
Namun hanya hamparan laut tak bertepi didepanku
Masih kudayung perahuku
Kayuh, dayung, jauh ....jauh
Walau letih, dahaga, lubang di kanan kiri perahuku
Tergerus ganasnya air laut
Masih belum kutemukan daratan tempatku menyadarkan perahuku
Masih ku kayuh perahuku
Kayuh, dayung, rusak, koyak
Namun tak kutemukan daratan tempat bersandar
Perlahan tenggelam perahuku
Sisakan puing kayu, usang, gapai, terapung, jauh ...jauh
Dan akhirnya tenggelam
kayuh, dayung, jauh ..... jauh
Berharap menemukan daratan tempatku menepi
Menyandarkan perahuku
Namun hanya hamparan laut tak bertepi didepanku
Masih kudayung perahuku
Kayuh, dayung, jauh ....jauh
Walau letih, dahaga, lubang di kanan kiri perahuku
Tergerus ganasnya air laut
Masih belum kutemukan daratan tempatku menyadarkan perahuku
Masih ku kayuh perahuku
Kayuh, dayung, rusak, koyak
Namun tak kutemukan daratan tempat bersandar
Perlahan tenggelam perahuku
Sisakan puing kayu, usang, gapai, terapung, jauh ...jauh
Dan akhirnya tenggelam
" Cinta "
Irama dalam laguku tercipta untukmu
Syair dalam puisiku tercipta untukmu
Goresan dalam lukisanku tercipta untukmu
Lisan dalan tulisanku tercipta untukmu
Namun indahnya kasih dan sayangmu
Adakah tercipta untukku
Cinta bukan mimpi dan bunga tidur
Cinta bukan madu dan racun
Cinta bukan mentari senja
Cinta bukan setangkai mawar
Cinta bukan sebatang coklat manis
Cinta bukan I miss U
Cinta bukan I love you
Cinta bukan syair Kahlil Gibran
Cinta bukan harta dan tahta
Cinta bukan cumbu rayu buaian peraduan
Cinta tidak buta
Cinta adalah cinta
Tidak ada huruf
Tidak ada kata
Tidak ada kalimat
Bahkat seluruh kosakata
Tidak dapat menjelaskan " Cinta "
Syair dalam puisiku tercipta untukmu
Goresan dalam lukisanku tercipta untukmu
Lisan dalan tulisanku tercipta untukmu
Namun indahnya kasih dan sayangmu
Adakah tercipta untukku
Cinta bukan mimpi dan bunga tidur
Cinta bukan madu dan racun
Cinta bukan mentari senja
Cinta bukan setangkai mawar
Cinta bukan sebatang coklat manis
Cinta bukan I miss U
Cinta bukan I love you
Cinta bukan syair Kahlil Gibran
Cinta bukan harta dan tahta
Cinta bukan cumbu rayu buaian peraduan
Cinta tidak buta
Cinta adalah cinta
Tidak ada huruf
Tidak ada kata
Tidak ada kalimat
Bahkat seluruh kosakata
Tidak dapat menjelaskan " Cinta "
" Jatuh Cinta "
Teduhnya tatapan matamu
hangatnya sentuhan kasih sayangmu
Membuatku terbuai duhai kekasih
Laksana nelayan yang merindukan dermaga tempat bersandar
Melepaskan lelah dan rindu setelah mengail ikan di laut lepas
Adakah kau merasakannya duhai kekasih
Atau ku hanya merasa sendiri
karena ku sedang jatuh cinta
Sepertinya hatimu telah menjadi tempat tinggalku
Aku telah jatuh cinta
Semua telah menjadi suratan tersembunyi dalam nasibku
Aku telah jatuh cinta
hangatnya sentuhan kasih sayangmu
Membuatku terbuai duhai kekasih
Laksana nelayan yang merindukan dermaga tempat bersandar
Melepaskan lelah dan rindu setelah mengail ikan di laut lepas
Adakah kau merasakannya duhai kekasih
Atau ku hanya merasa sendiri
karena ku sedang jatuh cinta
Sepertinya hatimu telah menjadi tempat tinggalku
Aku telah jatuh cinta
Semua telah menjadi suratan tersembunyi dalam nasibku
Aku telah jatuh cinta
" kau "
Rinduku padamu tak terbatas ruang dan waktu
Cintaku padamu tak beralaskan harta dan tahta
Sayangku padamu tulus dari dasar hatiku
Kasihku padamu suci secuci mata air gangga
namun jika itu semua kau anggap dusta
Belahlah dadaku ini
kan kau dengar tiap detak jantungku memanggil namamu
Tiap hembusan nafasku mengalun lagu cinta
Irama lembut nan syahdu
Namun jika kau masih meragukannya
Tikamlah aku dengan belatimu
Dan biarkan aku mati di pelukanmu duhai kekasihku
Karena langit telah menuliskan takdirku
Dan takdirku itu adalah " kau "
Cintaku padamu tak beralaskan harta dan tahta
Sayangku padamu tulus dari dasar hatiku
Kasihku padamu suci secuci mata air gangga
namun jika itu semua kau anggap dusta
Belahlah dadaku ini
kan kau dengar tiap detak jantungku memanggil namamu
Tiap hembusan nafasku mengalun lagu cinta
Irama lembut nan syahdu
Namun jika kau masih meragukannya
Tikamlah aku dengan belatimu
Dan biarkan aku mati di pelukanmu duhai kekasihku
Karena langit telah menuliskan takdirku
Dan takdirku itu adalah " kau "
" Duh Jakartaku "
Jakartaku Angkuh
Jakartaku Gaduh
Jakartaku Lusuh
Jakartaku Kisruh
Duh Jakartaku
Tak lagi kurasakan teduhnya Jakartaku
Karena kaca kaca gedung nan angkuh telah menggeser sang pohon
Tak bisa ku mengagumi peninggalan nenek moyangku
Karena mal dan plaza telah berdiri dengan angkuh dan menyombongkan diri
Apa yang sedang kau cari Jakartaku
Adakah kau merasa bahwa kau tak lagi muda
Namun begitu banyak beban yang kau tanggung
Kau kini telah tua dan rapuh
Belum selesaikah pekerjaan rumahmu wahai Jakartaku
Tak hanya menjadi jantung negeriku namun kau impian dan pujaan bangsamu
Berpuluh, ratus, ribu, bahkan jutaan jiwa datang padamu
Mengadu nasib padamu wahai Jakartaku
Bisa kurasakan sesaknya nafasmu
Saat asap beribu kendaraan bermotor dan bau busuk sampah kau hirup
Aku tahu dinginnya sekujur tubuhmu
Saat hujan dan banjir melandamu
Dan tiap tetesan air mata yang kau kucurkan untuk teriakan lapar para gelandangan
Caci maki yang terucap bagi sang koruptor
namun apa dayamu Jakartaku
Duh Jakartaku
Jakartaku Gaduh
Jakartaku Lusuh
Jakartaku Kisruh
Duh Jakartaku
Tak lagi kurasakan teduhnya Jakartaku
Karena kaca kaca gedung nan angkuh telah menggeser sang pohon
Tak bisa ku mengagumi peninggalan nenek moyangku
Karena mal dan plaza telah berdiri dengan angkuh dan menyombongkan diri
Apa yang sedang kau cari Jakartaku
Adakah kau merasa bahwa kau tak lagi muda
Namun begitu banyak beban yang kau tanggung
Kau kini telah tua dan rapuh
Belum selesaikah pekerjaan rumahmu wahai Jakartaku
Tak hanya menjadi jantung negeriku namun kau impian dan pujaan bangsamu
Berpuluh, ratus, ribu, bahkan jutaan jiwa datang padamu
Mengadu nasib padamu wahai Jakartaku
Bisa kurasakan sesaknya nafasmu
Saat asap beribu kendaraan bermotor dan bau busuk sampah kau hirup
Aku tahu dinginnya sekujur tubuhmu
Saat hujan dan banjir melandamu
Dan tiap tetesan air mata yang kau kucurkan untuk teriakan lapar para gelandangan
Caci maki yang terucap bagi sang koruptor
namun apa dayamu Jakartaku
Duh Jakartaku
" Syair "
Lidahku kelu
tanganku kaku
Lisan tulisan tidak bermakna
Tintaku kering
Alasku sobek
Kertasku lusuh
Duh kasihan kau duhai penyairku
Tak bisa kau puja dan sanjung kekasih hatimu hari ini
Lewat untaian kalimat yang menjadikannya syair indah buaian peraduan
Syair yang selau dibacakan Laila kepada Majnun
Dongeng sebelum tidur Romeo kepada Juliet
Namun adakah syair itu hanya topeng belakang
Saat kasmaran kau ungkap syair bak pujangga kelas atas
Saat mendua kau berdusta menjadikan syair sebagai senjata
Namun bermata tajam seperti belati
Siap menghunus para kekasih dari belakang
tanganku kaku
Lisan tulisan tidak bermakna
Tintaku kering
Alasku sobek
Kertasku lusuh
Duh kasihan kau duhai penyairku
Tak bisa kau puja dan sanjung kekasih hatimu hari ini
Lewat untaian kalimat yang menjadikannya syair indah buaian peraduan
Syair yang selau dibacakan Laila kepada Majnun
Dongeng sebelum tidur Romeo kepada Juliet
Namun adakah syair itu hanya topeng belakang
Saat kasmaran kau ungkap syair bak pujangga kelas atas
Saat mendua kau berdusta menjadikan syair sebagai senjata
Namun bermata tajam seperti belati
Siap menghunus para kekasih dari belakang
" Kata Sang Adam "
Wahai insan yang mengaku Siti Hawa
Berat nian beban yang kau bawa hingga engkau menderita
Aku tak ingin membebanimu kekasihku dengan derita
Tapi engkaulah yang membuat peristiwa
Hingga akhirnya terjadi bencana
Kalau memang kebenaran yang kau pinta
Janganlah mengumbar janji belaka dan hanya sumpah yang hampa
Karena ku tak mau kaummu menjadi penghuni neraka
Yang kuinginkan hanyalah kepatuhan dan kesetiaanmu semata
Tidak mengumbar janji pada semua pria
Serta diiringi dengan taubatan nasuha dan cinta kepada Nya
Itulah yang akan membuat engkau dirindukan surga
Bukan terpanggang didalam api neraka
Berat nian beban yang kau bawa hingga engkau menderita
Aku tak ingin membebanimu kekasihku dengan derita
Tapi engkaulah yang membuat peristiwa
Hingga akhirnya terjadi bencana
Kalau memang kebenaran yang kau pinta
Janganlah mengumbar janji belaka dan hanya sumpah yang hampa
Karena ku tak mau kaummu menjadi penghuni neraka
Yang kuinginkan hanyalah kepatuhan dan kesetiaanmu semata
Tidak mengumbar janji pada semua pria
Serta diiringi dengan taubatan nasuha dan cinta kepada Nya
Itulah yang akan membuat engkau dirindukan surga
Bukan terpanggang didalam api neraka
" Sumpah Hawa kepada Adam "
Sumpah Hawa kepada Adam
Wahai Adam kekasihku
Nafas kehidupanku
Irama Jantungku
Rangkaian tulang rusukku
Maafkan aku yang telah menjeratmu dalam cawan kenikmatan palsu
Yang Kudapat dari bujuk dan rayu setan
Yang menjauhkanmu dari Sang Pencipta dan Pecinta sejati
Melemparkanmu ke dunia yang fana dan menyesatkan
Dan jika sampai saatnya nanti
Demi menebus salahku padamu
Kurelakan jiwa raga ini hanya untukmu
Kan kutitiskan kisah ini pada anak cucu kita nanti
Hingga bumi tak lagi berputar
Dan waktu telah terhenti
Hingga menjadi pelajaran yang sejati
Wahai Adam kekasihku
Nafas kehidupanku
Irama Jantungku
Rangkaian tulang rusukku
Maafkan aku yang telah menjeratmu dalam cawan kenikmatan palsu
Yang Kudapat dari bujuk dan rayu setan
Yang menjauhkanmu dari Sang Pencipta dan Pecinta sejati
Melemparkanmu ke dunia yang fana dan menyesatkan
Dan jika sampai saatnya nanti
Demi menebus salahku padamu
Kurelakan jiwa raga ini hanya untukmu
Kan kutitiskan kisah ini pada anak cucu kita nanti
Hingga bumi tak lagi berputar
Dan waktu telah terhenti
Hingga menjadi pelajaran yang sejati
" Kalau Cinta "
Kalau cinta kenapa ada dusta
Kalau cinta kenapa ada duka
Bukankah dalam cinta tersimpan makna suci yg tidak boleh ternoda
Janganlah bicara cinta kalau dusta
Karena cinta bukanlah sekedar kata kata
Tapi butuh pengorbanan dan laku yang nyata
Lepaskan segala yang ada
Jika hanya menjadi dusta
Biarkan pergi bersama hembusan angin surga
Berbalur duka hati yang lara bertemankan nestapa
Kalau cinta kenapa ada duka
Bukankah dalam cinta tersimpan makna suci yg tidak boleh ternoda
Janganlah bicara cinta kalau dusta
Karena cinta bukanlah sekedar kata kata
Tapi butuh pengorbanan dan laku yang nyata
Lepaskan segala yang ada
Jika hanya menjadi dusta
Biarkan pergi bersama hembusan angin surga
Berbalur duka hati yang lara bertemankan nestapa
" Di ujung pelangi "
Di ujung pelangi
Ku menanti datangnya kekasih pujaan hati
Walau hanya dalam mimpi
Namun tetap ku nanti disini
Di ujung pelangi
Cintaku laksana bias hangat sinar mentari
Yang menyinari seisi bumi
Dapatkah kau rasakan sinarnya duhai kekasih
Jika nanti sinarku kan terganti oleh hujan yg menyirami
Percayalah cintaku kan slalu abadi
Karena masih dan selalu kutunggu kau di ujung pelangi
Ku menanti datangnya kekasih pujaan hati
Walau hanya dalam mimpi
Namun tetap ku nanti disini
Di ujung pelangi
Cintaku laksana bias hangat sinar mentari
Yang menyinari seisi bumi
Dapatkah kau rasakan sinarnya duhai kekasih
Jika nanti sinarku kan terganti oleh hujan yg menyirami
Percayalah cintaku kan slalu abadi
Karena masih dan selalu kutunggu kau di ujung pelangi
" Sayapku Patah "
Tiada kata tertulis, lisan tertuang
Hanya bahasa tubuh lukisan hati yang perih
Sayap cintaku luruh satu ke bumi
Tertusuk mata pedang beracun yang kau selipkan lewat puisi dan syair membius sukma
Tiap tetes darah dan air mata yang mengalir adalah ungkapan sakitku
Karena racunnya telah sampai ke jantung
Wahai kau pemilik pedang
Tidak akan kupuja kau dan kukagumi sebagai penyair
Jika ternyata kau melukaiku
Menikamku dari belakang dan mematahkan sayap cintaku
Tak bisa ku terbang tinggi kini
Karena sayapku tinggal sebelah
Terpekurku disini dengan satu sayap, lumpuh dan tak berarti
Sedang kau disana berpesta pora menebar cinta pada yang lain
Dan mata pedang beracun kembali kau selipkan dalam tiap puisi dan syairmu
Siap mencari mangsa yang beru
Hanya aku disini sendiri
Adakah sang waktu kan berbaik hati padaku
Tumbuhkan sayapku yang patah
Hingga dapatku terbang kembali
Mencari cinta sejati
Hanya bahasa tubuh lukisan hati yang perih
Sayap cintaku luruh satu ke bumi
Tertusuk mata pedang beracun yang kau selipkan lewat puisi dan syair membius sukma
Tiap tetes darah dan air mata yang mengalir adalah ungkapan sakitku
Karena racunnya telah sampai ke jantung
Wahai kau pemilik pedang
Tidak akan kupuja kau dan kukagumi sebagai penyair
Jika ternyata kau melukaiku
Menikamku dari belakang dan mematahkan sayap cintaku
Tak bisa ku terbang tinggi kini
Karena sayapku tinggal sebelah
Terpekurku disini dengan satu sayap, lumpuh dan tak berarti
Sedang kau disana berpesta pora menebar cinta pada yang lain
Dan mata pedang beracun kembali kau selipkan dalam tiap puisi dan syairmu
Siap mencari mangsa yang beru
Hanya aku disini sendiri
Adakah sang waktu kan berbaik hati padaku
Tumbuhkan sayapku yang patah
Hingga dapatku terbang kembali
Mencari cinta sejati
Subscribe to:
Posts (Atom)
